KEPYAPENKAB.GO.ID, Serui – Jumat (08/05/2026) — Kegiatan Konvergensi IV Aksi Percepatan dan Penurunan Stunting Tahun 2026 kembali dilaksanakan sebagai bagian dari upaya berkelanjutan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen dalam menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Dalam paparan progres, Kepala Dinas P3AKB Kabupaten Kepulauan Yapen, Rosita, M.Pd, menyampaikan capaian kabupaten yang telah dibaca dan diketahui oleh seluruh Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) se-Kabupaten Kepulauan Yapen. Ia mengungkapkan bahwa Kabupaten Kepulauan Yapen sementara memimpin dengan nilai 80, berada di atas Kota Jayapura yang masih di bawah capaian tersebut.
“Nilai ini harus terus kita dorong hingga mencapai 100 persen. Di sinilah komitmen kita sebagai operator, baik operator puskesmas, distrik, maupun seluruh program yang hadir untuk menolong Yapen dan berbicara untuk Yapen,” ujarnya.

Rosita juga memaparkan progres kegiatan distrik pada Semester I hingga Mei 2026 melalui TPPS. Beberapa capaian tersebut antara lain: Yapen Timur 56 persen, Yapen Utara 70 persen, Teluk Ampimoi 45 persen, Raimbawi 31 persen, Pulau Kurudu 20 persen, Angkaisera dan Kepulauan Ambai 43 persen, Yawakukat 47 persen, Nusa Wani 56 persen, Yapen Selatan 75 persen, Kosiwo 70 persen, Anotaurei 52 persen, Yapen Barat 19 persen, Wonawa 19 persen, Pulau Yerui 20 persen, dan Windesi 25 persen.
Sementara itu, dalam pemaparan aksi konvergensi stunting disebutkan bahwa total kasus stunting saat ini sebanyak 584 kasus, serta ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronis (KEK) sebanyak 429 orang.

Kegiatan ini turut dihadiri dan secara resmi ditutup oleh Wakil Bupati Kepulauan Yapen, Roi Palunga. Dalam sambutannya, Wakil Bupati menegaskan bahwa kegiatan konvergensi ini merupakan bagian penting dalam memperkuat percepatan penurunan stunting melalui penyusunan program yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Ia juga berharap para kepala distrik dapat lebih aktif membantu serta melihat secara langsung kondisi masyarakat di wilayah masing-masing, sehingga intervensi penurunan dan pencegahan stunting benar-benar tepat sasaran dan menjadi prioritas.
“Melalui forum ini telah dilakukan diskusi, evaluasi, serta disepakati langkah-langkah strategis untuk memastikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya bagi ibu hamil, bayi, balita, dan keluarga berisiko stunting dapat berjalan dengan baik,” ungkapnya.

Wakil Bupati menambahkan bahwa hasil kegiatan ini tidak boleh berhenti pada dokumen atau laporan semata, tetapi harus diwujudkan melalui kerja nyata di lapangan. Setiap OPD diharapkan memahami perannya masing-masing, baik melalui intervensi spesifik maupun intervensi sensitif, sehingga program yang dijalankan benar-benar mendukung terwujudnya generasi Yapen yang sehat, cerdas, dan berkualitas.







