KEPYAPENKAB. GO. ID, Yerui – Pemerintah pusat melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan monitoring dan evaluasi pembangunan infrastruktur energi yang bersumber dari APBN di Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua.
Monitoring dan evaluasi tersebut dilakukan Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Prof. Dr-Eng. Eniya Listiani Dewi, B.Eng., M.Eng., IPU, untuk memastikan pembangunan infrastruktur energi di wilayah kepulauan berjalan sesuai perencanaan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kehadiran Dirjen EBTKE di Kabupaten Kepulauan Yapen didampingi langsung Wakil Bupati Kepulauan Yapen Roi Palunga. Rombongan sebelumnya meninjau sejumlah infrastruktur energi yang telah disiapkan pemerintah di Kampung Rosbori, Asai dan Soromasen yang berada di Distrik Windesi dan Distrik Yapen Utara.

Rangkaian kunjungan kemudian berlanjut ke Distrik Yerui. Wilayah ini berada di pulau yang terpisah dari Pulau Yapen sehingga akses terhadap infrastruktur dasar, termasuk listrik, menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat.
Dirjen EBTKE tiba di Distrik Yerui pada Minggu (9/8/2026) malam. Kedatangannya disambut masyarakat melalui prosesi adat berupa pemakaian noken dan mahkota, injak piring, serta yosim pancar yang dibawakan para pelajar.

Kunjungan tersebut turut dihadiri Pj Sekda Kepulauan Yapen Cyfrianus Yustus Mambay, Kepala Distrik Yerui Charles Waimbo, perwakilan Forkopimda, TNI-Polri, aparatur kampung, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, pelajar serta masyarakat.
Pada Senin (10/8/2026), kegiatan dilanjutkan dengan tatap muka bersama masyarakat di lokasi PLTS Terpadu berkapasitas 49,5 kWp di Kampung Miosnum, Distrik Pulau Yerui. Pertemuan tersebut juga diikuti secara daring dari sejumlah daerah lain yang mendapatkan pembangunan infrastruktur energi baru terbarukan dari Kementerian ESDM.
Pertemuan berlangsung dalam suasana dialog. Masyarakat, aparat kampung dan para guru mendapat kesempatan menyampaikan secara langsung kondisi yang mereka alami sebelum infrastruktur listrik dibangun hingga perubahan yang dirasakan setelah PLTS mulai menerangi kampung.
Di hadapan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, warga menceritakan bagaimana aktivitas sehari-hari sebelumnya masih bergantung pada genset. Penerangan pada malam hari harus disesuaikan dengan ketersediaan bahan bakar, sementara biaya operasional menjadi beban yang harus ditanggung masyarakat.
Bagi para guru, keterbatasan penerangan juga berpengaruh terhadap aktivitas belajar siswa. Ketika malam tiba, kegiatan belajar di rumah maupun aktivitas pendidikan masyarakat harus menyesuaikan dengan kondisi penerangan yang tersedia.
Kini, suasana tersebut mulai berubah. Rumah-rumah warga di tiga kampung yang terlayani PLTS dapat menikmati penerangan, sementara sekolah, fasilitas kesehatan, rumah ibadah, kantor distrik, pasar dan fasilitas umum lainnya juga mendapatkan manfaat dari energi yang dihasilkan.
Dialog tersebut menjadi ruang bagi pemerintah pusat untuk mendengar langsung pengalaman masyarakat di wilayah kepulauan, sekaligus melihat sejauh mana pembangunan infrastruktur energi memberikan dampak terhadap kehidupan sehari-hari.
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Prof. Dr-Eng. Eniya Listiani Dewi, B.Eng., M.Eng., IPU, menyimak berbagai penyampaian masyarakat tersebut. Ia mengatakan, pengalaman warga menjadi bagian penting dalam mengevaluasi pembangunan energi, terutama di wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses listrik.
Kehadiran listrik di Miosnum tidak hanya mengubah kondisi kampung ketika malam tiba. Bagi masyarakat, energi listrik membuka ruang yang lebih luas untuk belajar, menjalankan pelayanan publik, mendukung kegiatan ekonomi serta memberikan penerangan bagi fasilitas-fasilitas yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dari cerita warga sebelum dan sesudah listrik hadir, manfaat pembangunan tersebut terlihat bukan hanya pada infrastruktur yang berdiri, tetapi pada perubahan aktivitas masyarakat yang kini dapat berlangsung dengan penerangan yang lebih memadai.
Pembangunan PLTS tersebut merupakan bagian dari proyek infrastruktur energi Kementerian ESDM yang dibiayai melalui APBN Tahun Anggaran 2025.
Bagi masyarakat setempat, kehadiran listrik bukan hanya berarti tersedianya penerangan pada malam hari. Listrik juga berkaitan dengan kegiatan belajar anak-anak, pelayanan kesehatan, aktivitas ekonomi dan operasional fasilitas umum.

Wakil Bupati Kepulauan Yapen Roi Palunga mengatakan, PLTS tersebut memberikan manfaat kepada masyarakat di tiga kampung, yakni Miosnum, Yetua Rau dan Yenyari.
Sebanyak 148 rumah telah mendapatkan manfaat listrik dari pembangunan tersebut. Dalam satu rumah, kata dia, biasanya terdapat dua hingga tiga kepala keluarga.
Selain rumah warga, listrik juga digunakan sejumlah fasilitas umum, di antaranya SD, SMP, dua gereja, puskesmas, kantor distrik, ruang tunggu pelabuhan dan pasar rakyat.
“Fasilitas yang dibangun oleh pemerintah pusat kali ini betul-betul sangat dinikmati, sangat dirasakan. Hari ini mereka baru merasakan yang namanya merdeka dari gelap,” ujar Roi.
Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan yang dirasakan masyarakat setelah tersedianya sumber listrik yang lebih stabil dibandingkan penggunaan genset.
Sebelumnya, sebagian masyarakat masih mengandalkan genset berbahan bakar minyak untuk memenuhi kebutuhan penerangan. Biaya operasional menjadi salah satu persoalan karena warga harus menyediakan bahan bakar secara rutin. Menurut Direktur Jenderal EBTKE, berdasarkan informasi yang diterimanya, satu genset dapat menggunakan sekitar lima liter bahan bakar untuk satu malam.
Dengan harga bahan bakar sekitar Rp17.000 per liter, biaya penggunaan genset dapat mencapai Rp85.000 per malam.
“Jadi satu malam Rp85.000 itu sangat tinggi,” katanya.
Kondisi tersebut, menurutnya, menunjukkan pentingnya pembangunan energi terbarukan di wilayah yang belum terjangkau jaringan listrik. Pemerintah melalui Kementerian ESDM terus mengarahkan pembangunan infrastruktur energi ke wilayah yang belum mendapatkan akses listrik.
“Seluruh lokasi di Tanah Air kita harus terlistriki sampai dengan 2029,” tegasnya.
Pembangunan tersebut menjadi bagian dari kebijakan pemerintah untuk memperluas akses energi di seluruh wilayah Indonesia, termasuk kawasan terpencil dan kepulauan.
Di Kabupaten Kepulauan Yapen, pembangunan yang ditangani Ditjen EBTKE antara lain PLTS Miosnum, PLTS untuk SD Asai, PLTS SD Rosbori serta PLTMH Soromasen. Pejabat tersebut meminta pemerintah daerah terus menyampaikan data wilayah yang belum mendapatkan akses listrik agar dapat menjadi bahan tindak lanjut pemerintah pusat. Kementerian ESDM juga menyiapkan program bantuan penyambungan listrik baru secara gratis bagi masyarakat yang memenuhi persyaratan berdasarkan hasil survei. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen berharap pembangunan infrastruktur energi tersebut dapat diperluas ke kampung-kampung lain.
Roi mengatakan, Pemkab Yapen telah mengusulkan sekitar 20 kampung untuk pembangunan infrastruktur energi pada 2026. Kampung-kampung tersebut sebelumnya telah melalui proses survei. Sementara untuk 2027, pemerintah daerah menyiapkan usulan pembangunan infrastruktur energi bagi 21 kampung di lima distrik.
“Kami berharap bahwa untuk 20 kampung ini bisa dinikmati seperti yang hari ini dinikmati oleh Distrik Yerui,” kata Wabup Roi
Di Distrik Yerui sendiri, masih terdapat dua kampung yang belum mendapatkan akses listrik dari pembangunan PLTS saat ini, yakni Kompeki dan Kaburawi. Pemerintah daerah berharap kedua kampung tersebut juga menjadi perhatian pemerintah pusat karena lokasinya cukup berjauhan dari infrastruktur PLTS yang telah dibangun.
“Kami berharap dua kampung ini kalau bisa dapat juga karena posisinya agak berjauhan sehingga tidak bisa dijangkau dengan PLTS yang sudah dibangun ini,” ujarnya.
Manfaat pembangunan PLTS di Yerui juga dirasakan langsung oleh rombongan pemerintah pusat sejak tiba di wilayah tersebut pada malam hari.
“Semalam saya melihat semua terang. Sejak kapal mau merapat, semua lampu dari laut sudah kelihatan di sekeliling kita,” kata Direktur Jenderal EBTKE.
Pemandangan tersebut, menurutnya, menjadi gambaran bahwa pembangunan energi telah mulai mengubah kehidupan masyarakat di wilayah kepulauan.
“Suatu anugerah bagi kita semua bahwa terang sudah sampai di kepulauan ini,” ujarnya.
Pembangunan energi tersebut tidak berhenti pada penyediaan infrastruktur. Pemerintah pusat mendorong agar fasilitas yang telah dibangun dapat dipelihara dan dikelola secara berkelanjutan. Pemerintah daerah menyatakan siap mendukung pengelolaan infrastruktur tersebut, termasuk membuka ruang kerja sama dengan PLN agar fasilitas energi dapat terus memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pemkab Yapen juga telah menyiapkan PLTMH Soromasen sebagai salah satu lokasi apabila nantinya dilakukan peresmian sejumlah infrastruktur energi secara serentak oleh Presiden Republik Indonesia secara daring.
“Kami pemerintah daerah sudah menyiapkan untuk PLTMH yang ada di Soromasen. Mungkin nanti kegiatan secara Zoom atau daring akan dilakukan dari Soromasen,” ujar Roi.
Pembangunan listrik di Yerui berlangsung menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan, hadirnya listrik menjadi salah satu bentuk pembangunan yang dapat dirasakan langsung. Kemerdekaan bagi mereka tidak berhenti pada perayaan tahunan. Kemerdekaan hadir ketika rumah-rumah mulai terang, anak-anak dapat belajar pada malam hari, fasilitas umum dapat beroperasi dan aktivitas masyarakat dapat berlangsung tanpa sepenuhnya bergantung pada genset.

Di tengah wilayah kepulauan yang dipisahkan laut dari pusat pemerintahan, cahaya dari PLTS Miosnum menjadi salah satu tanda bahwa pembangunan energi pemerintah pusat telah sampai ke kampung-kampung di Yapen. Perhatian pemerintah pusat melalui Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan jajaran Kementerian ESDM menjadi bagian dari upaya memperluas akses energi hingga wilayah-wilayah kepulauan dan terpencil.
Bagi masyarakat Yerui, listrik yang kini menyala bukan hanya tentang lampu yang menerangi rumah pada malam hari. Lebih dari itu, listrik memberi ruang bagi anak-anak untuk belajar, guru menjalankan aktivitas pendidikan, tenaga kesehatan memberikan pelayanan, serta masyarakat mengembangkan aktivitas ekonomi dan sosial.
Dari sebuah kampung di ujung wilayah Kepulauan Yapen, cahaya itu menjadi gambaran lain tentang arti kemerdekaan, ketika pembangunan hadir dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.







