sbobet onlineslot gacor
Bupati Benyamin Arisoy dan Ketua TP-PKK Melayat ke Rumah Duka Ibunda Wakil Bupati Roi Palunga - KEPULAUAN YAPEN

Bupati Benyamin Arisoy dan Ketua TP-PKK Melayat ke Rumah Duka Ibunda Wakil Bupati Roi Palunga

Serui — Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Palunga-Sakka atas berpulangnya Almarhumah Dorce Sakka, ibunda tercinta Wakil Bupati Kepulauan Yapen Roi Palunga. Almarhumah meninggal dunia pada Senin, 1 Juni 2026, di RSUD Serui setelah menjalani perawatan akibat sakit dalam usia 84 tahun.

Sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga yang berduka, Bupati Kepulauan Yapen Benyamin Arisoy didampingi Ketua TP-PKK Kabupaten Kepulauan Yapen Ny. Dina Rumbiak Arisoy melayat ke rumah duka Almarhumah di Kota Serui

Kehadiran Bupati dan Ketua TP-PKK disambut keluarga besar Palunga-Sakka yang tengah berduka atas kepergian sosok ibu yang selama hidupnya dikenal sebagai pribadi pekerja keras, sederhana, dan penuh kasih kepada keluarga.

Di hadapan keluarga, Bupati Benyamin Arisoy menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas berpulangnya Almarhumah Dorce Sakka. Atas nama pribadi, keluarga, dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen, Bupati mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan penghiburan dalam menghadapi masa-masa duka.

“Kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan kekuatan, penghiburan, dan ketabahan kepada seluruh keluarga yang ditinggalkan,” ujar Bupati.

Sejak kabar duka tersebut tersebar, rumah duka terus didatangi para pelayat. Tampak hadir Staf Ahli Bupati, Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Yapen, para Asisten Sekda, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) beserta jajaran, pimpinan BUMN, tokoh agama, tokoh masyarakat, sahabat, kerabat, serta masyarakat yang datang memberikan dukungan kepada keluarga.

Pada malam harinya, Bupati Benyamin Arisoy kembali hadir dalam Ibadah Penguatan Iman bersama keluarga besar, jemaat, dan para pelayat. Ibadah berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh pengharapan.

Dalam perenungan firman Tuhan yang diambil dari 2 Timotius 4:7-8, jemaat diajak untuk memaknai kehidupan sebagai perjalanan iman yang harus dijalani dengan setia hingga akhir. Firman tersebut mengingatkan bahwa setiap orang percaya yang telah mengakhiri pertandingan yang baik, mencapai garis akhir, dan memelihara iman, telah tersedia baginya mahkota kebenaran yang dikaruniakan Tuhan.

Bagi keluarga yang ditinggalkan, firman Tuhan tersebut menjadi penguatan di tengah kesedihan atas kepergian orang yang mereka cintai.

Dalam suasana yang penuh haru, Wakil Bupati Kepulauan Yapen Roi Palunga mengenang sosok ibundanya sebagai perempuan tangguh yang sepanjang hidupnya tidak pernah berhenti berjuang demi keluarga.

Menurut Roi, kedua orang tuanya, Almarhum Jacob Palunga dan Almarhumah Dorce Sakka, datang ke Serui pada tahun 1967. Dari tanah rantau itulah mereka membangun kehidupan keluarga dengan berbagai tantangan dan pergumulan hidup.

Perjalanan keluarga mereka tidak selalu mudah. Roi menceritakan bahwa ayahnya yang bekerja sebagai kontraktor pernah mengalami masa sulit ketika hasil pekerjaan proyek yang telah dikerjakan tidak pernah diterima keluarga karena orang yang dipercaya untuk mengurus proses penagihan pembayaran justru membawa lari dana tersebut dan meninggalkan tanggung jawabnya.

Peristiwa itu menjadi masa yang sangat berat bagi keluarga Palunga. Sang ayah mengalami trauma yang mendalam, sementara kebutuhan keluarga harus tetap berjalan.

“Itu masa yang sangat pahit bagi kami. Bapa mengalami trauma yang sangat mendalam. Sejak saat itu, yang berdiri paling depan menopang keluarga adalah mama,” kenang Roi.

Dalam kondisi ekonomi yang tidak mudah, Dorce Sakka memilih bekerja tanpa mengenal lelah. Ia berjualan kue putar, memelihara ternak babi, dan melakukan berbagai pekerjaan demi memastikan anak-anaknya tetap dapat bersekolah dan bertumbuh dengan baik.

“Kami bergantian menjaga jualan sepulang sekolah. Mama bekerja luar biasa keras selama bertahun-tahun. Dari pagi sampai malam. Bahkan sampai sebelum masuk rumah sakit, mama tidak pernah berhenti bekerja. Baru satu minggu terakhir mama beristirahat di rumah sakit, dan akhirnya kini mama beristirahat untuk selamanya,” kata Roi.

Menurutnya, seluruh pencapaian anak-anak dalam keluarga Palunga tidak dapat dipisahkan dari perjuangan sang ibu.

“Tidak pernah berhenti tangan itu bekerja. Kalau hari ini kami bisa berhasil, itu karena mama. Saya menjadi anggota DPRK karena mama. Saya menjadi Wakil Bupati karena mama. Kalau orang bertanya seperti apa perempuan tangguh, maka mama saya adalah jawabannya. Perempuan Toraja yang paling tangguh di tanah perantauan, di Kota Serui,” ungkapnya.

Roi juga mengenang hari-hari terakhir sang ibu selama menjalani perawatan di RSUD Serui. Selama kurang lebih satu minggu dirawat, kondisi Almarhumah beberapa kali mengalami perubahan.

“Ada hari-hari di mana mama terlihat membaik, masih bisa bercanda dan membuat kami semua tersenyum. Tetapi ada juga saat-saat ketika kondisinya tiba-tiba menurun dan membuat kami yang menjaga sangat khawatir,” tuturnya.

Di tengah masa perawatan itu, Almarhumah sempat menyampaikan sebuah keinginan sederhana yang begitu membekas di hati anak-anaknya.

“Mama bilang kepada saya, ‘Saya mau rayakan ulang tahun di Toraja.’ Saya langsung jawab, ‘Baik mama, nanti saya sendiri yang antar.’ Karena tahun 2025 saya juga mengantar mama merayakan ulang tahun di Toraja bersama keluarga besar di sana. Waktu itu mama sangat senang dan ceria,” kenangnya.

Cerita-cerita kecil selama di rumah sakit kini menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi keluarga. Salah satunya kebiasaan Almarhumah yang gemar menikmati es kiko, bahkan saat tengah menjalani perawatan.

“Ibu-ibu yang menjaga punya banyak cerita. Salah satunya, mama tetap suka minum es kiko. Kadang tengah malam pun masih minta es kiko. Hal-hal kecil seperti itu sekarang menjadi kenangan yang sangat berharga bagi kami,” katanya.

Momen paling mengharukan terjadi beberapa jam sebelum Almarhumah menghembuskan napas terakhir.

Roi menceritakan bahwa sekitar tiga jam sebelum kepergian ibundanya, ia dipanggil oleh salah seorang saudaranya karena kondisi sang ibu mulai menurun.

“Saat itu mama sudah tidak membuka mata. Saya mendekat lalu berbisik di telinganya, ‘Mama…’ Tiba-tiba mama membuka mata dan melihat saya. Saya sudah tidak bisa menahan air mata. Saya bilang, ‘Mama jangan bikin takut saya’.”

Tak lama kemudian, Almarhumah mengangkat tangannya dan merangkul putranya dengan erat.
“Mama rangkul saya dari atas kepala. Walaupun masih ada infus terpasang di tangannya, pelukan itu sangat erat. Pipi kami saling menempel. Tidak ada kata-kata yang keluar, tetapi dalam hati saya tahu mama sedang berpamitan,” kenang Roi.

Sejak menginjakkan kaki di Kota Serui pada tahun 1967 bersama mendiang suaminya, Alm. Jacob Palunga, Almarhumah Dorce Sakka menjalani perjalanan hidup yang penuh perjuangan. hingga berhasil membesarkan anak-anak yang kini mengabdikan diri di berbagai bidang pelayanan, pemerintahan, pendidikan, dan masyarakat.

Almarhumah meninggalkan tujuh orang anak, yakni Alberthina Rante Palunga, Marthinus Palunga, Almarhum Agustinus Palunga, Esternika Palunga, Roi Palunga, Rina Palunga, dan Almarhum Rony Palunga. Selain itu, Almarhumah juga meninggalkan 11 cucu dan 7 cicit.

Ungkapan belasungkawa turut disampaikan Ketua Majelis Daerah GPdI Papua, Pdt. Timotius Dawir. Dalam pesannya, ia menyebut kepergian Dorce Sakka sebagai kehilangan bagi keluarga besar GPdI Papua.

“GPdI Papua kembali berduka. Berpulang dari kami Ibu Dorce Sakka atau yang akrab disapa Nene Otie. Beliau adalah sosok yang setia berjemaat di GPdI Ekklesia Serui Kota dan dikenal sebagai salah satu warga Toraja generasi awal yang datang serta menetap di Serui,” tulisnya dari Philadelphia, Amerika Serikat.

Ia juga menggambarkan Almarhumah sebagai pribadi pekerja keras yang tidak pernah berhenti berjuang demi keluarga dan masa depan anak-anaknya.

“Selamat jalan Nene Otie. Pergilah kepada Khalikmu dalam damai kekal. Keluarga yang ditinggalkan kiranya mendapatkan penghiburan dari Roh Kudus,” ungkapnya.

Kepergian Almarhumah Dorce Sakka meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, gereja, dan masyarakat yang mengenalnya. Namun kehidupan yang dijalaninya menjadi warisan berharga tentang keteguhan, kerja keras, kasih seorang ibu, dan pengorbanan yang telah mengantarkan generasi penerusnya menjadi pribadi-pribadi yang berguna bagi banyak orang.

Jadwal ibadah pemakaman Almarhumah Dorce Sakka masih menunggu keputusan keluarga besar karena masih menantikan kedatangan anak-anak, cucu, cicit, menantu, serta kerabat yang berada di luar daerah. (*)

Penulis: Robby MesakEditor: Mark Imbiri