KEPYAPENKAB. GO. ID, Serui — Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, kembali memperkuat upaya pencegahan stunting melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) Tahap II. Intervensi kali ini tidak hanya diarahkan pada pemberian bahan pangan bergizi, tetapi juga memastikan keluarga aktif memantau asupan makanan dan pertumbuhan anak di rumah.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Yapen, Cyfrianus Yustus Mambay, S.Pd., M.Si., M.H., bersama jajaran Dharma Wanita dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3KB), turun langsung memantau pelaksanaan Genting Tahap II di Puskesmas Reradumpi, Distrik Kepulauan Ambai, Sabtu (29/8/2026).
Kunjungan tersebut merupakan pertemuan kedua setelah intervensi awal dilakukan sekitar satu bulan sebelumnya. Pemantauan diarahkan untuk melihat perkembangan penerima manfaat sekaligus memastikan intervensi yang diberikan benar-benar dimanfaatkan oleh keluarga sasaran.
Dalam arahannya, Cyfrianus menegaskan bahwa keberhasilan program Genting sangat ditentukan oleh partisipasi keluarga, terutama orang tua yang setiap hari mendampingi anak.
“Sebagus apa pun program kita, kalau tidak ada partisipasi dan kemauan dari ibu-ibu sendiri, itu akan percuma. Ibu-ibulah yang merawat anak-anak dan mengetahui perkembangannya,” ujar Cyfrianus.
Menurutnya, intervensi pemerintah harus berjalan berkesinambungan. Setelah pemberian intervensi tahap pertama, perkembangan penerima manfaat perlu dipantau untuk mengetahui apakah terjadi perubahan positif pada pertumbuhan anak.
“Intervensi pertama sudah kita lakukan. Hari ini kita intervensi yang kedua. Apakah ada peningkatan lagi? Itu yang kita mau, sehingga perbaikan pertumbuhan anak dari ibu hamil, ibu menyusui maupun baduta bisa mengalami perkembangan yang signifikan dan positif,” katanya.
Cyfrianus juga meminta keluarga memastikan bahan pangan yang diberikan melalui program Genting dikonsumsi oleh sasaran yang telah ditetapkan.
Menurut dia, bantuan tidak boleh hanya diterima, tetapi harus diolah dan diberikan kepada anak sesuai kebutuhan. Orang tua juga diminta mengatur pemanfaatan bahan pangan tersebut selama periode intervensi sehingga hasilnya dapat dipantau pada kunjungan berikutnya.
“Setiap asupan gizi yang kita berikan harus benar-benar dimanfaatkan sesuai dengan tujuan. Ibu-ibu harus mengatur asupan anak selama satu bulan sehingga kita bisa melihat ada perkembangan yang positif pada anak-anak,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya dukungan suami dan anggota keluarga lainnya dalam menjaga pola makan serta pemenuhan kebutuhan gizi anak di rumah.
Sementara itu, Kepala DP3KB Kabupaten Kepulauan Yapen, Rosita, menjelaskan bahwa sasaran intervensi di wilayah Puskesmas Reradumpi mencakup ibu hamil, ibu nifas dan anak baduta yang masuk dalam kelompok sasaran pencegahan stunting.

Menurut Rosita, terdapat lima anak baduta yang menjadi sasaran pendampingan dari pihak Sekretariat Daerah, sementara DP3KB mendampingi 10 sasaran yang terdiri atas ibu hamil, ibu nifas dan anak baduta.
“Semua sasaran ini kita dampingi sebagai bagian dari upaya pencegahan sebelum terjadi stunting. Harapan kami, melalui pendampingan dan pemenuhan gizi yang dilakukan sejak awal, pertumbuhan anak dapat terus dipantau,” kata Rosita.
Pada intervensi tahap kedua, keluarga sasaran juga mendapatkan tambahan bahan pangan berupa beras sebanyak lima kilogram. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung keluarga dalam mengolah bahan pangan yang diberikan menjadi makanan yang dikonsumsi langsung oleh anak sasaran.
Rosita menekankan, bahan natura yang diberikan pemerintah hanyalah bagian dari intervensi. Pengolahan dan pemberian makanan kepada anak sepenuhnya membutuhkan perhatian orang tua di rumah.
“Kalau dalam satu keluarga ada beberapa anak, anak yang menjadi sasaran harus benar-benar diprioritaskan. Bahan yang diberikan melalui program orang tua asuh cegah stunting harus diberikan kepada anak yang namanya terdaftar sebagai sasaran,” ujarnya.
Selain pemenuhan asupan gizi, Rosita meminta para ibu rutin membawa anak ke Posyandu. Menurutnya, pemantauan berat badan dan tinggi atau panjang badan menjadi bagian penting dalam mendeteksi lebih awal gangguan pertumbuhan anak.
“Ibu-ibu harus membawa anak ke Posyandu. Itu penting untuk mengukur berat badan dan tinggi badan. Kalau tidak memiliki alat ukur di rumah, datang ke Posyandu atau berkonsultasi dengan tenaga kesehatan,” katanya.
Rosita juga mendorong keluarga memanfaatkan potensi pangan lokal yang tersedia di sekitar tempat tinggal. Menurutnya, pemenuhan gizi anak tidak harus bergantung pada satu jenis makanan karena masyarakat Kepulauan Yapen memiliki sumber pangan yang beragam.

Ia mencontohkan ikan sebagai salah satu sumber protein yang mudah diperoleh masyarakat pesisir. Ikan kembung, kata dia, dapat menjadi pilihan pangan bergizi bagi keluarga karena mengandung protein dan asam lemak omega-3 yang penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.
“Laut kita luas dan ikan tersedia di sekitar kita. Jadi jangan hanya berpikir telur. Ikan juga bisa diberikan kepada anak sebagai sumber protein dan nutrisi,” ujar Rosita.
Menurutnya, pemanfaatan pangan lokal dapat membantu keluarga memenuhi kebutuhan gizi anak secara lebih beragam sekaligus menyesuaikan dengan kondisi dan ketersediaan pangan di masing-masing keluarga.
Dalam pelaksanaan Genting Tahap II di Puskesmas Reradumpi, tenaga kesehatan turut melakukan pemantauan kondisi ibu hamil, ibu nifas dan baduta, termasuk pengukuran pertumbuhan anak. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang edukasi bagi orang tua mengenai pola asuh, pemenuhan gizi dan pentingnya pemeriksaan rutin.
Sebelumnya, keluarga sasaran telah menerima pemberian bahan natura pada tahap pertama berupa susu sesuai kelompok usia, telur, kacang hijau, gula, serta sejumlah bahan pangan bergizi lainnya sebagai bagian dari intervensi pemenuhan gizi.
Pelaksanaan tahap kedua menjadi momentum bagi pemerintah untuk melihat perkembangan setelah intervensi pertama sekaligus memperkuat pesan bahwa pencegahan stunting tidak dapat hanya mengandalkan bantuan pemerintah.
Program Genting di Kabupaten Kepulauan Yapen melibatkan lintas sektor dengan mendorong pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), instansi terkait dan unsur lainnya mengambil peran sebagai orang tua asuh bagi keluarga sasaran.

Cyfrianus berharap intervensi yang dilakukan secara berkelanjutan dapat memberikan perubahan positif terhadap pertumbuhan anak. Ia juga menekankan bahwa pencegahan harus dilakukan sejak dini, termasuk sejak masa kehamilan.
“Kita harus melakukan dari sekarang sebelum terlambat. Kita memulai dari awal sehingga apa yang kita lakukan ini dapat memberikan manfaat untuk pertumbuhan, kesehatan, tetapi juga kecerdasan yang baik bagi anak-anak kita,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen berharap sinergi pemerintah, tenaga kesehatan, orang tua asuh dan keluarga dapat memastikan setiap intervensi benar-benar sampai kepada sasaran dan memberikan dampak nyata terhadap tumbuh kembang anak.
Dengan pemantauan berkala, pemenuhan gizi, pemanfaatan pangan lokal serta keterlibatan aktif keluarga, program Genting diharapkan menjadi salah satu langkah konkret Kabupaten Kepulauan Yapen dalam memperkuat pencegahan stunting dan membangun generasi yang sehat dan berkualitas.







