Gerakan Peduli Sampah, Distrik Angkaisera Gelar Kegiatan bersama Komunitas Peduli Lingkungan

Reporter : Robby Mesak

Menawi – Jumat, 19/02/2021, Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah sudah memasuki tiga belas tahun, namun permasalahan sampah masih menjadi isu yang serius karena pengelolaannya belum berwawasan lingkungan. Di samping itu, kesadaran dan kepedulian pemuda dan masyarakat terhadap sampah, perlu terus ditingkatkan melalui gerakan bersama yang melibatkan semua pemangku kepentingan.

Sehubungan dengan itu dan dalam rangka peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada 21 Februari 2018, Pemerintahan Distrik Angkaisera kabupaten Kepulauan Yapen bersama Komunitas Peduli Lingkungan (Kopling) dan Komunitas Kitong Bisa Learning Center (KBLC) Yapen serta beberapa komunitas lainnya, menginisiasi gerakan peduli sampah Nasional dengan tajuk “Hindari Sampah Plastik Untuk Laut yang Sehat”. Gerakan ini bertujuan meningkatkan rasa peduli Pemuda dan Masyarakat terhadap bahaya sampah plastik untuk laut dan sekitarnya.

Kepala Distrik Angkaisera, Muhammad Tahir, S.STP mengatakan Apresiasi yang luar biasa bagi Komunitas Peduli Lingkungan (Kopling) dan Komunitas Kitong Bisa Learning Center (KBLC) Yapen serta komunitas lainnya, yang sudah berinisiatif melakukan gerakan peduli sampah ini, dalam rangka memperingati hari peduli sampah Nasional di distrik Angkaisera.

“Kami di distrik Angkaisera juga masih kurang dalam penanganan sampah, oleh sebabnya dengan kegiatan ini, kami berharap dapat menyadarkan pemuda dan masyarakat dalam mengolah sampah dengan baik dilingkungannya masing-masing di distrik Angkaisera.” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Komunitas Peduli Lingkungan (Kopling) Serui, Adai Wihyawari mengatakan kegiatan hari ini kami memberikan Edukasi dan pengembangan diri bagi Adik-adik dan masyarakat, untuk meningkatkan kesadaran mereka terhadap peduli lingkungan untuk sampah.

Ia juga menjelaskan dampak dari Sampah Organik dan Anorganik, dimana sampah organik, atau sampah yang berasal dari bahan alami dalam hitungan satu hari atau kurang dari satu bulan sudah hancur, namun sampah anorganik atau sampah buatan, membutuhkan waktu terurai puluhan tahun sampai ratusan tahun untuk bisa hancur sempurna. Ia juga menambahkan bahwa jangan pernah sepelekan sampah, karena lingkungan dan hidup manusia pun bisa terancam oleh keberadaan benda yang sering diabaikan ini.

Terpantau Kegiatan ini dilaksanakan di halaman Balai Kampung Menawi, dihadiri oleh Anggota DPRD Kepulauan Yapen, Sulistyowati Rumbekwan, Anggota Babinsa Angkaisera, Komunitas Dargan,  Indonesia Mengajar, Komunitas Sasuka Buku, Pelajar SD, SMP, SMA dan Warga masyarakat Angkaisera.

(Foto/ Vidio : Robby Mesak)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *