Serui – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen menggelar diskusi strategis bersama Billy Gracia Mambrasar, Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, pada Senin malam (5/1/2026) di Kota Serui.
Diskusi berlangsung santai namun serius, memanfaatkan momentum kehadiran Billy Mambrasar di Kepulauan Yapen.
Pertemuan tersebut membahas sejumlah agenda penting, mulai dari Program Strategis Nasional, penguatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), hingga peluang investasi sektor unggulan Yapen, yakni perikanan, pariwisata, dan pertanian khususnya komoditas kakao (cokelat) dan kopi yang memiliki sejarah panjang di wilayah Papua.
Billy Mambrasar menjelaskan bahwa diskusi ini merupakan kelanjutan dari pertemuan awal antara investor dan pemerintah daerah yang telah berlangsung sejak tahun 2020–2021, pada masa pemerintahan sebelumnya.
“Waktu itu sudah ada diskusi awal dengan investor luar untuk pengembangan kakao di beberapa wilayah Papua, termasuk Kepulauan Yapen. Namun memang belum semuanya ditindaklanjuti,” ujar Billy.
Ia mencontohkan keberhasilan pengembangan kakao di Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan, yang kini telah menembus pasar ekspor Eropa melalui Koperasi Ebersud, dengan tujuan negara seperti Swiss, Belanda, dan Prancis. Sementara itu, kakao dari Genyem, Kabupaten Jayapura, telah dipasarkan hingga Jepang.
“Kuncinya ada di pemerintah daerah. Di Ransiki, Bupati langsung memimpin dan aktif mengawal. Di Genyem juga begitu. Kalau Pemda Kepulauan Yapen siap dan aktif, peluang ini bisa kita hidupkan kembali,” tegasnya.
Billy menekankan bahwa Kepulauan Yapen tidak memiliki sumber daya tambang atau minyak, sehingga pertumbuhan ekonomi harus bertumpu pada sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata berbasis ekspor.
Ia mengusulkan revitalisasi kebun-kebun kakao lama di Yapen, yang secara historis telah ada sejak masa kolonial Belanda. Data awal dan sejarah produksi menjadi penting sebagai bahan komunikasi awal dengan investor.
“Yapen ini bukan pemain baru. Sejak zaman Belanda, wilayah ini sudah memproduksi kakao. Itu nilai historis yang kuat dan menarik bagi investor,” jelas Billy.
Selain kakao, kopi Papua juga menjadi perhatian. Berdasarkan data umum, kopi Papua khususnya dari wilayah pegunungan dan pesisir tertentu dikenal memiliki karakter rasa earthy, floral, dan acidity seimbang, yang diminati pasar Jepang, Eropa, dan Amerika.
Kopi Indonesia sendiri merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor dunia, dengan Papua sebagai salah satu daerah potensial penghasil kopi spesialti.
Billy menyampaikan bahwa investor yang saat ini berada di Jepang telah menyatakan kesiapan memfasilitasi ekspor komoditas Papua, termasuk kopi, dan meminta data awal lahan serta produksi dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen.
Wakil Bupati Kepulauan Yapen Roi Palunga menyambut baik inisiatif tersebut dan menyebutnya sebagai langkah strategis untuk mengangkat kembali kesejahteraan petani lokal.
“Ini ide yang sangat brilian. Petani kakao kita sudah lama tidak diperhatikan. Jika investor masuk, ini akan sangat membantu dan meningkatkan pendapatan petani,” kata Roi Palunga.
Ia menegaskan bahwa dalam waktu dekat, pemerintah daerah akan mengundang seluruh petani kakao di Kepulauan Yapen untuk mendengar langsung aspirasi dan kesiapan mereka.
“Kalau masyarakat antusias, kita langsung gas. Tidak tunggu lama,” tegasnya.
Roi Palunga juga mengaitkan rencana ini dengan Program Ketahanan Pangan Nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, termasuk pengembangan pertanian, kopi, kakao, dan program cetak sawah.
“Program pemerintah ini luar biasa. Tapi kembali lagi, ini butuh kemauan masyarakat untuk bekerja. Kalau kita bekerja, kita pasti makan,” ujarnya.
Sementara itu, Plt Kepala Bappeda Kepulauan Yapen Saskar Paiderow menyampaikan bahwa pihaknya segera menindaklanjuti hasil diskusi dengan langkah konkret.
“Kami akan segera mengeluarkan undangan dan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian untuk memanggil langsung para petani. Kita butuh data yang akurat, terutama terkait lahan dan petani yang masih aktif maupun yang sudah berhenti,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa pada era 2000-an, Kepulauan Yapen dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kakao terbaik di Papua, khususnya di wilayah Angkaisera dan Kosiwo, di mana kakao menjadi penopang utama ekonomi masyarakat.
“Sektor ini sempat ditinggalkan karena pasar tidak jelas. Tapi kalau pasar sudah terbuka seperti sekarang, kami yakin petani akan bangkit kembali,” tambahnya.
Diskusi ini juga menyinggung Program Strategis Nasional lainnya, seperti Sekolah Rakyat dan Koperasi Merah Putih, sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi masyarakat dari hulu ke hilir.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen menegaskan komitmennya untuk fokus pada tiga sektor utama kelautan, pertanian, dan pariwisata sebagai pilar pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Dengan sinergi antara pemerintah daerah, investor, dan masyarakat, Kepulauan Yapen diharapkan mampu mengembalikan kejayaan kakao dan kopi sebagai komoditas unggulan, meningkatkan PAD, serta membuka lapangan kerja demi kesejahteraan generasi mendatang. (*)







