Belajar Daring tapi tidak memiliki Perangkat Android, SMP Negeri 2 Siasati dengan Cara ini.

Reporter : Robby Mesak

Serui – Selama masa pandemi covid-19 berlangsung di Kabupaten Kepulauan Yapen, sejumlah aktivitas seperti aktivitas belajar mengajar dihentikan dan dialihkan dengan belajar daring atau menggunakan teknologi seperti yang dilakukan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Serui, dimana pada hari senin, 10 agustus 2020, anak-anak di SMP Negeri 2 Serui yang melakukan belajar dari rumah, terlihat mengumpulkan tugas-tugas yang diberikan dari sekolah. Sementara dengan adanya keterbatasan dari anak-anak sekolah yang tidak memiliki Handphone Android, disiatsati dengan mengambil tugas langsung di sekolah.

Kepada media, ketika dikonfirmasikan, ke Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Herlin Kartiningsi, S.Pd menjelaskan bahwa anak-anak yang tidak memiliki HP Android, diharapkan datang untuk mengambil materi yang telah difotokopi oleh pihak sekolah. Hal ini harus dilakukan untuk mengatasi berbagai macam kendala yang dihadapi oleh siswa maupun oleh guru-guru, dimana salah satu kendala adalah jaringan internet yang tidak stabil atau masih sering lemot. Selain itu tidak semua siswa pelajar di SMP Negeri 2 Serui memiliki perangkat HP Android. Selain itu, anak-anak dan orang tua banyak yang mengeluh tentang belajar dengan sistem daring dikarenakan tidak mengerti. Selain itu wali kelas juga meluangkan waktu untuk menghampiri anak-anak di rumah, terutama bagi anak-anak yang rumahnya bisa dijangkau.

Sementara itu untuk penggunaan aplikasi berbasis android, pada mode belajar daring di SMP Negeri 2 Serui, menggunakan sejumlah aplikasi seperti Whatsapp, Zoom Meeting hingga berbasis Youtube. Walaupun menggunakan berbagai macam metode dan aplikasi, hal ini bertujuan agar penyampaian materi bisa diterima lebih baik ke siswa, namun hal ini masih belum maksimal ujarnya.

Sementara ketika ditanya tentang tatap muka dengan pembatasan jumlah siswa, dijelaskan guru SMP Negeri 2 ini bahwa di sekolahnya belum menjalankan alternatif pilihan ini, karena belum tersedianya sejumlah fasilitas syarat yang dimintai oleh pemerintah daerah. Selain itu saat ini belum ada aktivitas tatap muka di sekolah tuturnya. Dijelaskannya jika nantinya disetujui oleh pemerintah daerah, maka akan dibuat skenario belajar mulai dari kelas 7 belajar selama 30 menit dalam waktu 2 hari, dilanjutkan kelas 8 dalam waktu 2 hari berturut-turut dan kelas 9 dalam durasi yang sama dengan waktu selama 2 hari, namun hal ini masih sebatas wacana yang akan di realisasikan.

(Foto : Robby Mesak)

Leave a Reply