Serui – Video berjudul “Serui Negri’ku” karya tim Andy Nussy (ANP.ID) berhasil meraih Juara 1 Lomba Video Konten Kreatif dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-57, 6 Maret Kabupaten Kepulauan Yapen. Video berdurasi sekitar 9 menit tersebut mengangkat kisah sejarah pendidikan di Serui sekaligus budaya Suku Busami di Distrik Kosiwo.
Atas capaian tersebut, ANP.ID menerima hadiah Rp15 juta serta piagam penghargaan dari Bupati Kepulauan Yapen, Benyamin Arisoy.
Posisi Juara 2 diraih oleh Rekan Project dengan hadiah Rp10 juta, disusul Juara 3 Meylan Ririmase yang memperoleh Rp7 juta. Sementara Ampari Generation Creative meraih kategori Favorit dengan hadiah Rp5 juta dan sertifikat penghargaan.

Selain pemenang utama, panitia juga memberikan apresiasi kepada peserta lainnya. Sebanyak 7 peserta yang masuk nominasi menerima hadiah Rp1 juta per peserta serta piagam penghargaan dari Bupati, sedangkan 3 peserta non-nominasi menerima Rp500 ribu per peserta serta piagam penghargaan.
Dari 26 peserta yang mendaftar, hanya 14 peserta yang menyerahkan karya video untuk dinilai oleh dewan juri.

Andy Nussy, mengatakan bahwa timnya mengangkat potensi wisata bahari, pantai, dan air terjun Kampung Mariarotu, Distrik Kosiwo yang merupakan wilayah Suku Busami.
“Melalui video ini kami ingin memperkenalkan keindahan alam Mariarotu sekaligus budaya masyarakat Busami yang memiliki sejarah dan nilai adat yang kuat,” ujar Andy.
Dalam video tersebut juga dijelaskan tentang struktur adat Suku Busami yang memiliki kepala suku dari marga Aisoki Rombe. Jabatan kepala suku diwariskan secara turun-temurun dari bapak kepada anak dalam garis marga tersebut.
Selain itu, video juga menyinggung kisah lama tentang praktik penangkapan budak yang kemudian dijadikan bagian dari keluarga, sebagai bagian dari sejarah sosial masyarakat pada masa lampau.
Keunikan video “Serui Negri’ku” terletak pada pengangkatan kisah sejarah pendidikan melalui wawancara dengan para tokoh yang pernah mengalami masa tersebut.

Maria Nussy, alumni Meisjes Vervolg School (Sekolah Gadis), mengenang bagaimana pendidikan perempuan pada masa itu dijalankan dengan sistem asrama.
“Dulu di meisjes vervolg school kami perempuan dimasukkan dalam asrama tanpa membawa apa-apa. Semua sudah disiapkan oleh asrama. Orang tua hanya antar sagu untuk dimasukkan ke gudang. Selebihnya kami diajar bagaimana menjadi perempuan yang memiliki pendidikan dan keterampilan,” ujarnya.
Sementara itu, Musa Mauri/Maitindom, alumni Opleiding Dorpsschool Onderwijs (ODO), mengenang masa pendidikan tersebut dengan penuh haru.
“Dulu sekolah kita ini disebut Omhoog en Vooruit yang artinya naik dan maju,” katanya sambil mengingat masa pendidikan di era pemerintahan Belanda yang menanamkan pendidikan, agama, serta keterampilan sebagai dasar pembentukan karakter.

Dalam video tersebut juga diceritakan bahwa Serui pernah dikenal sebagai pusat pendidikan di Tanah Papua. Sejumlah sekolah seperti ODO, MVVS, RAZ dan YVVS menjadi bagian penting dalam perkembangan pendidikan di wilayah tersebut.
Kenangan itu juga dihidupkan kembali melalui lagu “Odo Serui Manise” yang dibawakan oleh Mechu Imbiri dari Rio Grime, yang menggambarkan suasana Serui pada masa lalu dengan jalan-jalan di sekitar sekolah yang dipenuhi bunga-bunga indah.







