KEPYAPENKAB.GO.ID,Serui – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen memperkuat upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) dengan meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Langkah ini dilakukan menyusul masih rendahnya capaian penemuan kasus TBC, yang hingga Juli 2026 baru mencapai 363 kasus atau sekitar 23 persen dari estimasi 1.608 kasus sepanjang tahun.
Penguatan kapasitas tenaga kesehatan tersebut dilakukan melalui Pelatihan Penanggulangan Tuberkulosis (TBC) bagi Tenaga Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kabupaten Kepulauan Yapen yang dibuka Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kabupaten Kepulauan Yapen, Cyfrianus Yustus Mambay, di Hotel Kelapa Dua Serui, Rabu (26/8/2026).

Pelatihan berlangsung selama 11 hari, mulai 26 Agustus hingga 5 September 2026. Kegiatan diikuti 25 tenaga medis yang mewakili 17 distrik melalui puskesmas masing-masing. Pelatihan tersebut merupakan kolaborasi Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Yapen, Dinas Kesehatan Provinsi Papua dan Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Papua.
Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai penanggulangan TBC, tata laksana program, penemuan kasus, pengobatan, pemantauan pasien hingga upaya pencegahan penularan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Pj Sekda Cyfrianus Yustus Mambay menegaskan pelatihan tersebut harus memberikan dampak nyata terhadap penanganan TBC di Kabupaten Kepulauan Yapen. Pengetahuan yang diperoleh peserta, kata dia, harus diterapkan ketika kembali menjalankan tugas di puskesmas masing-masing.
“Pelatihan ini harus menjadi pelatihan yang implementatif. Setelah dilatih, jangan materi itu tetap tinggal di laptop saja, tetapi harus diimplementasikan di seluruh puskesmas yang Bapak dan Ibu tangani,” tegas Cyfrianus.
Ia juga meminta peserta melakukan transfer pengetahuan kepada tenaga kesehatan lainnya sehingga peningkatan kompetensi tidak berhenti pada 25 peserta pelatihan.
“Yang dilatih hari ini harus dilaksanakan di tempat di mana Bapak dan Ibu melaksanakan tugas. Transfer knowledge yang diberikan harus menjadi hal yang implementatif, bisa dipraktikkan dan bisa dilakukan,” ujarnya.
Menurut Cyfrianus, kepala puskesmas dan tenaga kesehatan perlu meningkatkan kepekaan terhadap persoalan kesehatan masyarakat di wilayah kerja masing-masing. Penanganan TBC, lanjutnya, tidak hanya berorientasi pada pengobatan, tetapi juga harus diperkuat melalui penemuan kasus secara aktif, pemantauan pasien serta pencegahan penularan.
Ia menekankan perlunya target yang terukur dalam penanggulangan TBC agar keberhasilan program dapat dievaluasi berdasarkan perubahan angka kasus dan keberhasilan pengobatan.
“Harus ada target. Misalnya kita mendapatkan angka 100 orang yang mengalami TBC, dengan pelatihan dan penanganan yang ada, kita harus bisa menekan angka itu. Kalau 100, mungkin bisa turun menjadi 70 atau 60. Harus angkanya turun,” katanya.
Cyfrianus menegaskan keberhasilan pelatihan tidak cukup diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi harus terlihat pada peningkatan penemuan kasus, kualitas penanganan dan capaian pengobatan.
“Jangan kita pelatihan, kita melakukan penanganan, tetapi tidak ada angka yang turun. Itu menjadi harapan pemerintah daerah,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Yapen, Yanes Rapami, mengatakan penanggulangan TBC di Yapen masih membutuhkan perhatian serius.

Yanes mengungkapkan, dari estimasi 1.608 kasus TBC pada 2026, hingga Juli baru 363 kasus yang berhasil ditemukan atau sekitar 23 persen dari estimasi tersebut.
“Estimasi kasus TBC tahun 2026 sebanyak 1.608 kasus. Hingga bulan Juli 2026 yang ditemukan baru mencapai 363 kasus atau 23 persen dari estimasi,” ungkap Yanes dalam laporannya.
Selain rendahnya penemuan kasus, capaian keberhasilan pengobatan TBC di Kabupaten Kepulauan Yapen juga masih berada di bawah target nasional. Saat ini angka keberhasilan pengobatan baru mencapai 69 persen, sementara target nasional berada pada angka 90 persen.
Yanes menjelaskan, sejumlah faktor memengaruhi capaian penanggulangan TBC tersebut. Di antaranya masih terbatasnya penemuan kasus di luar gedung, pergantian petugas di puskesmas, keterbatasan dukungan pembiayaan untuk kegiatan penyelidikan kasus, serta belum seluruh tenaga kesehatan yang menangani program TBC mendapatkan pelatihan.
“Dari 12 dokter dan sekitar 80 perawat yang menangani program TBC di Kabupaten Kepulauan Yapen, belum semuanya mendapatkan pelatihan penanggulangan TBC,” katanya.
Karena itu, Yanes menilai peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi bagian penting dalam memperkuat layanan TBC di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan kompetensi yang lebih baik, tenaga kesehatan diharapkan mampu meningkatkan penemuan kasus sekaligus memastikan pasien mendapatkan pengobatan hingga tuntas.
Ia berharap peserta menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dalam pelayanan sehari-hari dan meneruskannya kepada tenaga kesehatan lainnya di puskesmas masing-masing.
Dengan demikian, pelatihan tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan peserta, tetapi berkontribusi terhadap peningkatan penemuan kasus, keberhasilan pengobatan, serta penurunan beban TBC di Kabupaten Kepulauan Yapen.







