Ansus – Air mata itu jatuh tanpa bisa ditahan ketika Roi Palunga melangkah pelan di depan sebuah rumah sederhana di Kelurahan Ansus, Distrik Yapen Barat, Jumat (13/2/2026).
Di hadapannya berdiri bangunan rumah beratapkan daun, berdinding anyaman daun sagu, dan berlantai nibon serta pelepah sagu. Di dalam rumah itu, empat kepala keluarga bertahan hidup dalam keterbatasan. Rumah itu milik Edi Raubaba.
Wakil Bupati Kepulauan Yapen itu tak lagi mampu menyembunyikan haru. Suaranya serak, terbata, ketika menyerahkan bantuan bahan bangunan rumah (BBR) kepada keluarga tersebut.
Tangannya gemetar saat menyalami penghuni rumah yang selama ini hanya bisa berharap pada perhatian pemerintah.

“Kami turun langsung melihat kondisi di lapangan. Sangat miris. Pemerintah daerah ingin sekali membantu semua masyarakat, tetapi kemampuan kami terbatas,” ucap Roi dengan mata bersedih.
Kunjungan itu bukan sekadar seremoni. Bersama Bupati Benyamin Arisoy, pemerintah daerah tengah berupaya memetakan secara langsung kondisi perumahan warga di kampung-kampung terpencil.
Apa yang mereka temukan di Ansus menjadi gambaran nyata bahwa masih banyak masyarakat yang hidup jauh dari kata layak.
Didampingi Ketua DPRK Kepulauan Yapen Ebzon Sembai dan Kepala Dinas Sosial Saskar Paideow, Roi menyerahkan bantuan sebagai bagian dari 90 paket BBR yang disalurkan kepada warga Distrik Yapen Barat.
Bantuan itu diharapkan menjadi awal perubahan bagi keluarga-keluarga yang selama ini tinggal dalam kondisi memprihatinkan.

Bagi Edi Raubaba dan keluarganya, rumah berdinding sagu itu bukan sekadar tempat berlindung dari panas dan hujan.
Di sanalah anak-anak tumbuh, orang tua beristirahat, dan harapan digantungkan. Namun ketika hujan deras turun, atap daun sering bocor. Angin kencang mudah menyibakkan dinding anyaman. Ruang yang sempit harus dibagi untuk empat kepala keluarga.
Ketua DPRK, Ebzon Sembai, menyebut apa yang terlihat di Ansus bukan kasus tunggal.
“Empat kepala keluarga tinggal dalam satu rumah kecil seperti ini. Ini menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, tetapi kami juga membutuhkan dukungan pemerintah pusat agar pembangunan bisa berjalan maksimal,” katanya.

Roi pun menegaskan, keterbatasan fiskal daerah membuat tidak semua warga bisa segera disentuh bantuan. Banyak kampung di wilayah kepulauan yang sulit diakses, dengan kebutuhan perbaikan rumah layak huni yang masih tinggi.
“Kami berharap pemerintah pusat dapat membantu pemerintah daerah melihat kondisi ini. Masih banyak masyarakat yang belum bisa kami jangkau. Ini perlu perhatian bersama,” ujarnya.
Selain keluarga Edi Raubaba, bantuan juga diserahkan kepada keluarga Luter Raweyai, Maria Aronggear, serta puluhan penerima manfaat lainnya.
Pemerintah menyerahkan bantuan secara langsung untuk memastikan kondisi riil warga dan mencegah salah sasaran.
Di tengah suasana haru, salah satu penerima manfaat, Fredy Maay, menyampaikan rasa terima kasihnya.

“Kami berterima kasih karena pemerintah datang langsung melihat kondisi kami dan membantu kami,” ujarnya singkat.
Bagi Roi Palunga, perjalanan ke Ansus bukan sekadar agenda kerja. Ia menjadi pengingat bahwa tugas pemerintah belum selesai bahwa di sudut-sudut kampung, masih ada rakyat yang menunggu rumah yang lebih layak untuk disebut tempat tinggal. (*)







