Sejarah

Pulau Panjang disebelah Utara Teluk Cenderawasih adalah Yapen. Pulau Yapen dan maknanya belum banyak terungkap. Beberapa literatur antropologis hanya mengabadikan nama Waropen yang pertama kali dipopulerkan oleh Yacob Weyland pada tahun 1705, saat memimpin ekspedisinya, sedangkan ditulis oleh Koentjaraningrat bahwa dalam ekspedisi Mr. Weiland sempat melihat bentangan daratan jauh di arah timur dengan pegunungan yang tinggi menjulang. Bentangan daratan itu dinamakan Aropang dari mana berasal kata Aropen. Kata itu lebih dipopuler kata Waropen sekarang, yang menurut penduduk asli Waropen berarti orang yang berasal dari pedalaman. Sedangkan kata Yepen dan maknanya, muncul pendapat sekelompok orang bahwa kata ini berasal dari bahasa Biak yaitu dari kata “Japan” yang artinya keladi atau talas, sehingga pulau Yapen dapat bermakna pulau keladi. Ada kemungkinan pemberi nama pulau ini orang Biak yang pada awal menginjak kakinya di Pulau ini terkesan oleh hamparan tanaman keladi di tempat ini. Hal ini bisa ditelusuri dengan mengkaji lebih lanjut latar belakang keret Yapen dan keret Waropen yang kini hanya di temui pada suku Biak.

Berdasarkan fakta dan sejarah serta perjuangan megisahkan suatu perjalanan Panjang yang memilikii keunikan tersendiri bagi tanah Papua dan Khususnya daerah Kepulauan Yapen bahkan Waropen. Perjalanan panjang, karena melewati tahap-tahap perkembangan dalam jangka waktu yang relatif lama. Keunikannya terlihat pada ciri perjalanannya, yakni corak yang khas sesuai latar kulatur sosial daerah serta lingkungan geografis dan fisiografisnya.

Sehingga Kepulauan Yapen bahkan Waropen (Kota Serui) diantara fakta dan sejarah serta perjuangan tanah Papua kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan catatan tahapan Proses perjalanan diantaranya :

  1. Dominasi Gereja ; yang meliputi fase awal pemberitaan Injil, terbentuknya wilayah Pelayanan Gereja dan peranan Gereja dalam pembangunan.
  2. Zaman India Belanda dan Jepang ; yang menyangkut keadaan pemerintahaan dan bangkitnya nasionalisme.
  3. Gema Trikora ; yang meliputi adanya Tri Komando Rakyat, reaksi perlawanan rakyat, dan berakhir penyerahan kedaulatan.
  4. Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969 ; yang menyangkut perjanjian pelaksanaan dan hasilnya.

Dominasi Gereja

Sebelum ada pemerintahaan resmi dan menyeluruh di tanah Papua, Agama telah mendahuluinya lewat kegiatan niaga oleh pedagang-pedagang yang bekerja sama dengan Sultan Nuku di Tidore dan Ternate (massa kejayaanya dari tahun 1797-1805). Tiga agama yang menerobos isolasi kehidupan agama budaya orang Papua adalah Islam, Kristen Protestan dan Khatolik. Dalam penyebarannya di Papua, Agama Islam di Fak-Fak , Khatolik di Selatan, sedangkan Kristen protestan mendominasi daerah Utara dan pedalaman, bahkan kesuluruh Tanah Papua hingga demikian muncul dalam bagian ini adalah Dominasi Gereja. Peran Gereja di Papua sangat dominan, karena dapat memberikan nuansa baru dalam kehidupan dan perilaku manusia yang berporos pada alam gaib dan keterbelanganya dan juga mempersiapkan Sumber daya manusia dan pembaharuan dengan kemajuan dan perkembangan bagi pemerintah dan pembangunan.

Fase awal pemberitaan Injil di Tanah Papua-Khususnya di Kabupaten Kepulauan Yapen. Kesemuanya itu berawal dari kedatangan kedua Zendeling (Pekabar Injil), Yakni Zendeling Carl Ottow dan zendeling Johann Gottlob Geissler. Mereka adalah utusan dari Misi Pekabaran Injil yang disponsori oleh tuan Gosner dan Geldring di negeri Belanda, pada waktu itu daerah Hindia-Belanda menjadi sasaran program Pekabaran Injil, sehingga tuan Gosner dapat mengetahui bahwa Tanah Papua/Nova Guinea dan islands conoko belum terjemah oleh Injil Kristus. Kedua Pekabar Injil asal Berlin (Jerman) ini meninggalkan tanah air mereka menuju negeri Belanda. Kemudian pada tanggal 25 Juli 1852 mereka berangkat ke Batavia (Jakarta sekarang) dan tiba pada tanggal 7 Oktober 1852. Selanjutnya pada tanggal 19 Mei 1853 mereka bertolak menuju Ternate. Di Ternate mereka menanti hububgan ke Tanah Papua sambil mempelajari bahasa Arafuru dan sejarah Alkitab. Perjalanan terakhir mereka lakukan pada tanggal 12 Januari 1855 dengan kapal Ternate-nakhodanya Costantijn-menuju Tanah Papua.