Penulis: Administrator

28Agu/14
2
#Terkait

SMK YPK SERUI

SMK YPK SERUI adalah salah satu lembaga yang bergerak di bidang pendidikan menengah kejuruan di Kabupaten Kepulauan Yapen. Didirikan pada tahun 1966 oleh sejumlah tokoh agama yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Kristen di Tanah Papua.

1 Nama Sekolah SMK YPK SERUI
2 Nomor Statistik Sekolah 402250306001
3 Nomor Induk Sekolah 400020
4 Alamat Sekolah :
– Jalan Jl. Stevanus Rumbewas
– Desa/ Kelurahan Serui Jaya
– Distrik Yapen Selatan
– Kabupaten Kepulauan Yapen
– Propinsi Papua
– Kode Pos 98211
– Telepon (0983)31408
– Faximile (0983)31408
5 SK Pendirian
– Nomor / Tanggal 3051/I 18.8D/IB/ 12 Juli 1984
– Oleh Kanwil Depdikbud / Depag
6 Tanah
– Luas 8.451 M2
– Status Kepemilikan Milik Sendiri
7 Bangunan
– Luas 6.121 M2
8 SK Akreditasi
– Nomor / Tanggal 0006072/ B/ Kep/ I/ 2007 / 27 April 2007
– Jenjang Akreditasi Diakui
9 Identitas Yayasan
– Nama Yayasan Yayasan Pendidikan Kristen
– Alamat Jl. Argapura- Jayapura
– Telepon (0967)534949
– Faximile (0967)533192
– Nama Ketua Dra. W.W. Kambuaya, MM
– Nomor / Tanggal didirikan Sekolah 771/ 18 Januari 1969
10 Bidang Keahlian Bisnis Manajemen dan Tekhnik Informatika
– Program Studi – Akuntansi
– Administrasi Perkantoran
– Tehnik Komputer Dan Jaringan
11 Kepala Sekolah
– Nama Herlina Br. Surbakti, SE
– Status Pegawai Negeri Sipil
– No. SK Pengangkatan SK. 824.4-01
– Tanggal 19 Januari 2006
– Oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan OlahragaKab. Yapen Waropen
– TMT 19 Januari 2006
31Des/08

Rencana Pengembangan Kawasan Kepulauan Yapen Tahun 2008

Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Kabupaten Kepulauan Yapen berlandaskan pada kondisi fisik serta potensi wilayah. Rencana tersebut dijabarkan dalam bentuk kawasan pembangunan wilayah dan kebijakan spasial, dengan tetap mempertimbangkan aspek kesesuaian serta kemampuan daya dukung ruang yang diimplementasikan dalam skenario pengembangan pemanfaatan ruang pada berbagai kegiatan bidang dan sub-bidang pembangunan.

Adapun pokok-pokok uraian dalam Rencana Struktur Pemanfaatan Ruang Kabupaten Kepulauan Yapen yaitu :

Struktur Wilayah

Meliputi tiga wilayah Satuan Kawasan Pengembangan (SKP), yaitu :

Satuan Kawasan Pengembangan “A” (SKPA)

Dengan pusat pengembangan di Kota Serui dan sub-pusat pengembangan Kampung Kamanap dan Menawi.
Pusat pengembangan di Kota Serui meliputi Kelurahan Serui Kota, Serui Jaya, Anotaurei, Mariadei, Turu, Tarau, Banawa, Serui Laut, Pasir Hitam, Pasir Putih dan Warari.
Sub-pusat pengembangan di Kamanap meliputi Kampung Kamanap, Ariepi, Tatui, Aromarea, Sarawandori, Mariarotu, Kanawa, Ambaidiru, dan Mambo.
Sub-pusat pengembangan di Menawi meliputi Kampung Menawi, Borai, Aitiri, Kontinui, Wawuti, Ambai, Rondepi, Kawipi, Saweru, dan Kabuena.

 

Satuan Kawasan Pengembangan “B” (SKP B)

Pusat pengembangan di Ansus dan sub-pengembangan pada Poom dan Wooi.
Pusat pengembangan di Ansus meliputi Kelurahan Ansus, Kampung Sasawa (Mereruni), Kairawi (Woredua), Papuma (Awayoi), Webi (Yenusi), Aibondeni  (Antuwai, Awado).
Sub-pusat pengembangan di Wooi, meliputi Kampung Wooi, Dumani, Kanaki, Woinap.
Sub-pusat pengembangan di Poom, meliputi Kampung Poom I, Poom II, Serewen, Makiroan, Windesi, Mungngui, Asai, Kaonda, Karawi, Rosbori, Membetotui, Ariyobu, dan Arteneng.

 

Satuan Kawasan Pengembangan “C” (SKP C)

Pusat pengembangan di Dawai dan sub-pengembangan pada Yobi dan Kurudu.
Pusat pengembangan di Dawai meliputi Kampung Dawai, Nusembai, Korombobi, Wabo, Warironi, Randawaya, Ampimoi, Nusiari, dan Sumberbaba.
Sub-pusat pengembangan di Kurudu meliputi Kampung Kurudu, Kaipuri, dan Andesaria.
Sub-pusat pengembangan di Yobi meliputi Kampung Tindaret, Saubeba, Sambrawi, Yobi, Soromasen, Inggersau, Aisau, Woda, Wansma, Paparu, dan Waindu.

 

Fungsi  Wilayah

Penentuan Satuan Kawasan Pengembangan (SKP) di atas didasarkan pada elemen struktur yang meliputi letak, sumberdaya, fungsi, ruang fungsional, dan infrastruktur kawasan. Adapun fungsi masing-masing SKP adalah :

a.    Satuan Kawasan Pengembangan A (SKP A)

  • Fungsi utama: pusat pemerintahan kabupaten.
  • Fungsi pendukung: pusat perdagangan, pelayanan sosial, pariwisata, perkebunan, transpotasi dan pemukiman.

b.    Satuan Kawasan Pengembangan B (SKP B)

  • Fungsi utama: pusat perikanan
  • Fungsi pendukung: pusat pemukiman, pertanian dan kehutanan

c.    Satuan Kawasan Pengembangan C (SKP C)

  • Fungsi utama: pusat pariwisata dan indutri kecil.
  • Fungsi pendukung: pusat pemukiman, perikanan, perkebunan, pertanian dan kehutanan

Untuk  tercapainya optimalisasi rencana pemanfaatan ruang dalam berbagai kegiatan pembangunan, maka pendekatan kawasan dalam rangka pengembangan wilayah berorientasi pada potensi wilayah, kondisi fisik dan lingkungan sehingga dapat mempercepat proses pertumbuhan dan pemerataan kawasan.

Rencana Pengembangan Kawasan Hutan

Arahan pemanfaatan kawasan Hutan Produksi adalah :

  1. Hutan Produksi Terbatas, dengan potensi dan kondisi fisik wilayah yang meliputi, kelerenang, jenis tanah dan curah hujan yang mendukung, maka beberapa bagian kawasan hutan produksi terbatas dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya, dan pengembangannya pada Distrik Yapen Barat dan Distrik Poom.
  2. Kawasan Hutan Produksi yang sudah terokupasi masyarakat dikembangkan untuk kegiatan social forestry pada Distrik Yapen Timur dan Angkaisera.

 

Rencana Pengembangan Kawasan Pertanian

Jenis kegiatan bidang pertanian yang potensial dikembangkan di Kabupaten Kepulauan Yapen berdasarkan fungsinya terdiri atas pertanian lahan basah dan pertanian lahan kering yang meliputi sub-bidang tanaman pangan, perikanan, peternakan, perkebunan dan holtikultura.

  1. Rencana pemanfaatan ruang untuk pengembangan pertanian lahan basah, yaitu tanaman padi diarahkan pada Distrik Yapen Selatan. Untuk tanaman sagu pada Distrik Angkaisera.
  2. Rencana pemanfaatan ruang untuk pengembangan perikanan diarahkan pada Distrik Yapen Selatan untuk pengembangan budidaya rumput laut, budidaya ikan kerapu (kampung Banawa, Mariadei, Sarawandori, Tatui, Ariepi, Mariarotu, Kamanap, Kanawa, dan Turu) dan budidaya teripang (Mariadei, Sarawandori, Ariepi, Mariarotu, Kamanap,  dan Kanawa). Distrik Yapen Barat  budidaya rumput laut (Kampung Sasawa, Papuma, Antonai, Wooi dan Woinap), ikan kerapu (Kampung Sasawa, Kairawi, Papuma, Wimoni, Yenusi, Antonai, Wooi, Woinap, dan Tanjung Kantawai) dan teripang (Kampung Sasawa, Papuma, Wimoni, Yenusi, Antonai dan Woinap). Distik Poom (Kampung Poom II) untuk pengembangan budidaya rumput laut, budidaya ikan kerapu (Kampung Poom I, Poom II, Serewen, Makiroan, Waisani, Windesi dan Rosbori)  dan Kampung Poom II yang sesuai untuk Teripang. Distrik Yapen Timur untuk budidaya rumput laut (Kampung Tindaret, Inggersau, Aisau, Nunsiari, dan Bareirepi), budidaya ikan kerapu (Kampung Tindaret, Yobi, Sambrawai,  Soramasen, Inggersau, Aisau, Napatera, Waindu, Barawai, Nunsiari, Dawai, Warironi, Karoaepi, Randawaya, Ampimoi, Bareraipi, dn Obaeropi) dan Kampung Nunsiari, Dawai, Bareraipi dan Obaorepi diarahkan untuk budidaya teripang. Distrik Angkaisera dan Kepulauan Ambai pada Kampung Adiwipi dan Mambawi yang cocok untuk budidaya rumput laut. Ikan kerapu (Kampung Adiwipi, Kawipi, Wamori, Kabuena, Umani, Mambai, Rondepi, Ambai dan Wawuti) dan teripang diarahkan di Teluk Adiwipi.
  3. Rencana pemanfaatan ruang untuk pengembangan perkebunan diarahkan pada Distrik Yapen Timur dengan komoditi unggulan kelapa dan kakao, Distrik Angkaisera dengan komoditi unggulan kopi dan kakao, Distrik Yapen Selatan dengan komoditi unggulan kelapa dan kakao, Distrik Yapen Barat dengan komoditi unggulan  kelapa, dan Distrik Poom dengan komoditi unggulan kelapa.
  4. Rencana pemanfaatan ruang untuk pengembangan tanaman pangan lahan kering, palawija dan sejenisnya meliputi Distrik Yapen Timur dengan komoditi unggulan jagung dan ketela pohon, Distrik Angkaisera dengan komoditi unggulan ketela pohon, keladi, ubi jalar dan kacang tanah, Distrik Yapen Selatan dengan komoditi unggulan kacang tanah, sayur-sayuran, ketela pohon, Distrik Yapen Barat dengan komoditi unggulan  kacang tanah, keladi dan ubi jalar, dan Distrik Poom dengan komoditi unggulan keladi, ubi jalar, dan kacang tanah.
  5. Rencana pemanfaatan ruang untuk pengembangan holtikultura  terutama durian, jeruk, rambutan, matoa, langsat, nangka/cempedak diarahkan pada Distrik Poom, Pantai Utara, Yapen Timur, Yapen Selatan, Angkaisera, Yapen Barat dan Kosiwo.

 

Rencana Pengembangan Kawasan Pertambangan Energi dan Sumberdaya Mineral

Pengembangan kawasan ini didasarkan pada potensi wilayahnya, yang meliputi :

  1. Galian dan pengambilan batu, kerikil dan pasir sungai diarahkan di Sungai Mantembu, Mariadei, Wurui dan Kainui.
  2. Pasir laut diarahkan di sepanjang pesisir Desa Aromarea, Ariepi dan Kamanap.
  3. Penambangan pasir laut yang tersebar diarahkan di Poom, dan di Pantai Utara Pulau Yapen (Kampung Windesi, Tindaret dan Yobi).
  4. Batu kapur/karang putih diarahkan di sepanjang pantai selatan Kepulauan Yapen terutama di sekitar Kota Serui (Newi, Anotaurei, Mariadel, Sarawandori dan Aromarea).

Rencana  Pengembangan  Sistem  Prasarana  Wilayah

Pengembangan sistem prasarana wilayah akan dapat menggerakkan bidang pembangunan lainnya seperti halnya pembangunan infrastruktur perhubungan darat, laut dan udara. Dalam rencana struktur pemanfaatan ruang diharapkan mendorong percepatan perkembangan antar wilayah khususnya dalam mendukung proses pertumbuhan dan pemerataan bidang ekonomi, perdagangan, pariwisata, sosial  budaya, jasa pelayanan umum dan stabilitas keamanan.

Arah kebijakan pegembangan sistem transportasi wilayah, adalah suatu kebijakan untuk meningkatkan keterkaitan fungsional dan ekonomi antar pusat pemukiman, antar pusat pemukiman dengan kawasan produksi dan kawasan tertentu. Untuk mewujudkan rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang yang diharapkan, maka arah pengembangan transportasi wilayah tersebut juga mencakup sistem pola jaringan, fungsi dan tingkat pelayanan prasarana transportasi darat, penyeberangan laut dan transportasi udara serta keterkaitannya dengan pusat pemukiman kampung termasuk kawasan-kawasan sentra produksi yang dapat menghubungkan antar wilayah inter regional dan nasional.

 

a.    Transportasi  Darat

Peningkatan kualitas dan status jaringan pada ruas jalan bagian timur Pulau Yapen adalah ruas jalan Serui-Menawi (11 km), Sumberbaba-Dawai-Woda (17 km), ruas jalan bagian utara yang mengarah ke bagian utara Pulau Yapen adalah ruas jalan Woda-Yobi-Soromasen (26,5 km), ruas jalan Saubeba-Rosbori (28 km), Windesi, Serewen, Poom. Ruas jalan bagian Barat Pulau Yapen adalah ruas jalan Serui-Kemanap-Sasawa-Ansus-Webi.  Ruas jalan bagian tengah yang mengarah ke bagian tengah Pulau Yapen adalah ruas jalan Menawi-Saubeba.

Untuk jalan kolektor primer yang menghubungkan jalan arteri bagian selatan dan utara yaitu ruas jalan Ansus-Webi-Serewen, ruas jalan Ansus-Natabui-Munggui.

Jalan lokal primer yang menghubungkan jalan kolektor primer dengan lokal primer adalah ruas jalan antara Ansus-Wooi, ruas jalan Tatui-Ambaidiru, ruas jalan Ansus-Toneta-Natabui, ruas jalan Kurudu-Kaipuri.

 

b.    Transportasi Laut

  • Peningkatan kualitas prasarana pelabuhan laut pada penambahan frekuensi kedatangan kapal baik PELNI maupun Ferry diberbagai tempat untuk meningkatkan arus transportasi barang, jasa dan penumpang di berbagai tempat.
  • Pembangunan pelabuhan ferry dan peningkatan fasilitas beberapa dermaga penghubung lokal yang dapat melayani transportasi barang, jasa dan penumpang antar wilayah dan antar pulau-pulau kecil yang memiliki potensi yang dapat diarahkan untuk dikembangkan ialah Distrik Pantai Utara, Kampung Kabuena Distrik Angkaisera.
  • Peningkatan status beberapa dermaga pelabuhan untuk peti kemas yang dapat melayani angkutan barang serta jasa berskala nasional adalah dermaga pelabuhan Kota Serui.

c.    Perhubungan  Udara

Pengembangan transportasi perhubungan udara dengan peningkatan prasarana bandara udara melalui Pembangunan Bandara Kamanap di Distrik Kosiwo. Tujuan bandara tersebut difungsikan adalah agar dapat mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi, jasa pelayanan umum dan transportasi angkutan penumpang udara antar wilayah loka regional  maupun  nasional.

 

Permasalahan

Kabupaten  Kepulauan  Yapen   dalam  pelaksanaan  pembangunan   masih  dihadapkan   pada  sejumlah  masalah  yaitu :

  1. Terbatasnya  SDM secara  kuantitatif  maupun  kualitif  ditinjau  dari  tingkat  Pendidikan  dan  derajat  kesehatan;
  2. Pola pemukiman  masyarakat  yang  terpencar  dan  terpencil;
  3. Terbatasnya prasarana  dan sarana  pendukung  dalam  memenuhi  pelayanan  masyarakat;
  4. Rendahnya  produktifitas  dan  kemampuan  masyarakat  dalam  mengelola  sumberdaya  alam;
  5. Rendahnya  dan terbatasnya  sumber-sumber pendapatan  daerah;
  6. Belum  optimalnya  fungsi  pelaksanaan  kelembagaan  baik  pemerintah  maupun  masyarakat.

 

19Mei/08
Pemerintah Daerah

PP No. 40 Tahun 2008

Kabupaten Yapen Waropen merupakan daerah otonom sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548).

Kabupaten Yapen Waropen yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1969 tentang Pembentukan Propinsi Otonom Irian Barat dan Kabupaten-kabupaten Otonom di Propinsi Irian Barat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1969 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2907), dalam perkembangannya terdapat aspirasi masyarakat Kabupaten Yapen Waropen yang menginginkan adanya perubahan nama dari Kabupaten Yapen Waropen menjadi Kabupaten Kepulauan Yapen. Keinginan perubahan nama menjadi Kabupaten Kepulauan Yapen dilatarbelakangi oleh telah dibentuknya Kabupaten Otonom Waropen sebagai pemekaran dari Kabupaten Yapen Waropen berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002, sehingga agar tidak terjadi duplikasi nama perlu ditinjau adanya perubahan nama Kabupaten Yapen Waropen menjadi Kabupaten Kepulauan Yapen, selain itu secara geografis merupakan wilayah yang terdiri dari gugusan pulau. Berdasarkan aspirasi masyarakat Kabupaten Yapen Waropen tersebut, Bupati Yapen Waropen melalui surat Nomor: 060/113/SET tanggal 15 Maret 2004 kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Yapen Waropen menyampaikan permohonan persetujuan perubahan nama dari Kabupaten Yapen Waropen menjadi Kabupaten Kepulauan Yapen. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Yapen Waropen telah memberikan persetujuan perubahan nama Kabupaten Yapen Waropen menjadi Kabupaten Kepulauan Yapen melalui Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Yapen Waropen Nomor 8/KPTS/PIMP/DPRD/YW/2004 tanggal 9 Agustus 2004 tentang Persetujuan Perubahan Nama Kabupaten Yapen Waropen menjadi Kabupaten Kepulauan Yapen.

Atas dasar persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Yapen Waropen selanjutnya Bupati Yapen Waropen melalui surat Nomor 130/310/SET tanggal 24 Juli 2007 meneruskan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Yapen Waropen kepada Gubernur Provinsi Papua, dan kemudian Gubernur Provinsi Papua melalui surat Nomor 125/768/SET tanggal 12 Maret 2008 menyampaikan usulan kepada Menteri Dalam Negeri mengenai perubahan nama Kabupaten Yapen Waropen menjadi Kabupaten Kepulauan Yapen.

Berdasarkan Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, perubahan nama daerah yang tidak mengakibatkan penghapusan suatu daerah ditetapkan dengan peraturan pemerintah.

PP_NO_40_2008.pdf